Kinerja dan perspektif pengembangan agribisnis palawija

Bahasan ini mengungkap dua aspek, yaitu permasalahan yang dihadapi petani dalam pengembangan usaha tani dan agribisnis palawija, serta upaya mengatasinya melalui pengembangan program kemitraan agroindustri berbasis palawija. Secara spesifik permasalahan yang dihadapi petani adalah: (a) ketergantungan petani terhadap pasar input yang sangat tinggi, dan tingkat harga ditentukan oleh produsen input dengan struktur pasar yang bersifat monopsonistik; (b) keterbatasan sumber permodalan dan aksesibilitas petani yang rendah karena terkendala tingkat suku bunga, ketersediaan agunan, dan prosedur

administrasi yang berbelit; (c) dalam pasar output petani bersifat penerima harga dengan kecenderungan harga yang fluktuatif, sehingga tidak kondusif dalam mendorong peningkatan produksi dan pendapatan petani; (d) keterbatasan kemampuan sumber daya petani khususnya terkait dengan penangan pascapanen, pengolahan dan pamasaran hasil; (e) kondisi dan potensi sumber daya alam yang semakin menurun sebagai akibat over intensifikasi, sehingga dibutuhkan biaya korbanan yang cukup tinggi dalam peningkatan

produksi; (f) penurunan tingkat keunggulan komparatif dan kompetitif, sehingga petani dihadapkan kepada ancaman produk impor dengan tingkat harga yang lebih murah.

Secara umum petani dihadapkan pada tekanan alam, tekanan ekonomi domestik dan global, tekanan kebijakan yang kurang kondusif, serta kondisi infrastruktur (fisik dan kelembagaan) yang kurang menggembirakan. Tekanan tersebut menjadi semakin berat dalam kondisi adanya tekanan sosial dalam bentuk citra petani dan pertanian yang bersifat konvensional, sehingga kurang diminati oleh generasi muda dengan latar belakang pendidikan yang lebih baik. Tanpa perubahan pendekatan yang mendasar dan komprehensif, dikhawatirkan akan semakin memperburuk kinerja pertanian, sehingga semakin sulit untuk dibenahi kembali.

Walaupun permasalahan yang dihadapi cukup sulit dan kompleks, namun optimisme perlu tetap terus ditumbuhkan. Kasus keberhasilan telah ditunjukkan oleh berbagai pihak diantaranya pengembangan agropolitan berbasis jagung di Gorontalo, dan juga keberhasilan Garuda Food dalam pengembangan program kemitraan agroindustri berbasis bahan baku palawija. Pengalaman industri menunjukkan bahwa pengembangan agroindustri berbasis palawija cukup prospektif. Produk pangan olahan bertumbuh dengan

pesat seiring dengan peningkatan pendapatan masyarakat. Pengalaman industri juga menunjukkan bahwa pengadaan bahan baku palawija melalui pola kemitraan dengan petani kecil dinilai menguntungkan industri dan petani. Perlu dikemukakan disini bahwa rendahnya pengadaan bahan baku melalui pola kemitraan, pada prinsipnya bukan disebabkan oleh ketidakmampuan industri, tetapi kemampuan petani dalam memenuhi kebutuhan industri.

Dalam konteks ini penting dikemukan perlunya membangun dan mengembangkan model kemitraan agroindustri yang ideal. Keberhasilan pengembangan program kemitraan agroindustri inI, kasus keberhasilan Garuda Food, tidak terlepas dari pilihan komoditas dan strategi yang diterapkan dengan narasi ringkas sebagai berikut: (a) kacang tanah sebagai ‘branded product’’ harganya relatif stabil karena produknya yang bersifat spesifik; (b) Industri bertumbuh secara berkelanjutan, karena adanya kontinuitas penawaran dan permintaan yang pada akhirnya berdampak pada stabilitas harga; (c) kebijakan dan program pengembangan industri harus mampu memberikan nilai tambah sepanjang rantai (primersekunder-

tertier) melalui pengembangan R&D, teknis proses dan pengembangan produk, distribusi logistik, dan promosi pemasaran; (d) pengembangan industri melalui pendekatan kemitraan secara terpadu sehingga mampu mencapai kinerja industri secara baik (kondisi lancar) dan tidak terdapat pembatas yang berarti dalam pengembangan lahan usaha.

Tujuan kemitraan yang dikembangkan Garuda Food adalah: (a) menjamin kontinuitas pasokan bahan baku industri; (b) menjamin kualitas bahan baku; (c) memberikan kepastian harga; dan (d) membangun kemitraan seluas-luasnya dan memberdayakan potensi yang ada di daerah. Strategi kemitraan yang dipertimbangkan mencakup: (a) Intensifikasi: menggunakan sarana produksi pertanian yang direkomendasikan oleh industri maupun Dinas Pertanian setempat; (b) ekstensifikasi: dengan penggunaan lahan HGU atau penggunaan lahan perkebunan dengan sistem tumpangsari dan rotasi; dan (c) persyaratan teknis: kesesuaian faktor agronomomi, komoditas (varietas), kesepakatan, dan lain-lain.

Dalam membangun model kemitraan agroindustri yang ideal dibutuhkan komitmen semua pihak yang terlibat secara sinergis, transparan, dan adil dengan sasaran terjaganya keberlanjutan pengembangan usaha. Sedikitnya terdapat empat pelaku yang terlibat dalam program kemitraan ini, yaitu industri, mitra strategis, petani, dan pemerintah daerah. Industri memiliki kewajiban untuk memberikan jaminan pasar, dukungan teknologi, dan pendampingan teknis serta manajemen. Industri juga wajib merumuskan dan menyepakati spesifikasi detail kontrak kerja sama sesuai dengan aspek hukum yang berlaku. Mitra strategis (BUMN, pengusaha, dan lain-lain) dapat memberikan fasilitasi terkait dengan penyediaan dana dan melakukan fungsi pendampingan sesuai dengan kompetensinya.

Pemerintah daerah dapat memberikan jaminan keamanan, pengembangan infrastruktur, Kebijakan pendukung yang kondusif, disamping fasilitasi permodalan dan pendampingan. Petani sebagai pelaku utama kemitraan agroindustri ini diharapkan dapat mentaati kesepakatan kontrak untuk menjamin keberlanjutan program di lapangan. Program kemitraan berbasis agroindustri ini dinilai strategis, karena prengembangan keterkaitan fungsional dan institusional ke hulu (subsistem produksi) dan hilir (subsistem pemasaran) akan dapat dibangun dengan lebih mudah dan lebih efektif.

 

2 responses to “Kinerja dan perspektif pengembangan agribisnis palawija

  1. Indonesia memiliki wilayah dengan lahan sangat potensial didukung aksesibilitas dan iklim yang baik, hanya diperlukan regulasi dan kebijakan yang memihak para petani sebagai produsen hulu. sehingga akan didapat pola agroindustri yang berkelanjutan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s