Mudik Euy…..

Mudik kapan…..??Setiap lebaran idul fitri tiba, orang-orang yang di perantauan rame-rame—berbondong-bondong—pulang kampung atau lebih sering dikenal sebagai mudik. Padahal pulang kampong bagi para perantau bisa kapan saja tidak harus wktu lebaran dan itu juga mungkin dilakukan mereka. Akan tetapi yang membedakan dengan saat lebaran adalah waktunya mudik yang bareng-bareng sehingga gaungnya menjadi wah……….mudik. setiap ketemu teman di kantor, di jalan, dan entah dimana, selalu menanyakan mudiknya kapan? Bahkan kadang-kadang yang ga perantaupun ditanya “ga mudik”? Jadi ingat parodinya Temon dan Abdel di Global TV. Diceritakan disana bahwa temon adalah orang jakarta yang secara otomatis tidak punya acara mudik, tapi ternyata dia juga menyimpan keinginan untuk mudik sehingga di nyari cara bagaimana agar bisa mudik. Akhirnya dia nembak (ga pakai pelor) pembantu sebelah rumah tuk menjdi calon sitrinya dengan harapan dia bisa ikutan mudik ke kampung halaman calon istri.

Seakan-akan mudik saat lebaran sudah menjadi keharusan, bahkan dibela-belain bagaimana caranya agar bisa mudik bagaimanapun caranya. Bagi yang ga dapet tempat duduk di angkutan, kereta, atau kapal rela berdesakan atau ndlosor di lantai. Bagi yang ga punya ongkos untuk mudik, nyari cara tuk dapat uang baik dengan jalan lurus maupun jalan berbelok (nyuri, ngrampok, nipu, de el el).tak heran kalao musim mudik kayak gini kejahatan di kota besar meningkat.

Kebiasaan mudik biasanya juga diikuti dengan ajang adu penampilan. Masak perantau ga berhasil, akhirnya tidak sedikit dari perantau yang membuat dirinya seakan-akan orang sukses di perantauan. Dengan gayanya yang metropolis kadang-kadang malah membuatnya jadi wagu poll. Mereka masih mengukur keberhasilan dengan materi, yang membuat makna lebaran menjadi lebar (bubar).

Gimana ga bubar ya……..lawong yang ikut merayakakn lebaran bukan hanya orang yang berpuasa, lagian kadang-kang yang puasapun juga belum bisa menahan nafsu kemateriannya. Baju baru, motor baru, dan materi serba baru lainnya menunjukkan kemateriannya.

Seharusnya yang baru adalah keimanan dan ketakwaan kita. Bulan puasa adalah tangga menuju ke tingkat iman dan takwa yang lebih baik. Seharusnya setelah Ramadan kita bisa gapai itu semua, bukannya malah menuruni tangga yang sudah kita naiki.

Tapi tetep yang namanya mudik adalah idaman para perantau. Kangen bisa di lepas, temen lama bisa berkumpul, tapi uang juga tetep abis……….he……he…..

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s