KEBIJAKAN Per-Kedelai-an Indonesia

Asosiasi pengarajin tahu tempe berencana mogok produksi tahu-tempe selama tiga hari dimulai tanggal 9-11 september 2013. rencana tersebut dilatarbelakangi oleh mahalnya harga kedelai sebagai bahan baku tahu-tempe dengan kisaran harga 9.000-10.000 rupiah dari yang semula 7.000-8.000 rupiah,  bahkan di daerah tertentu kenaikan harganya bisa mencapai lebih dari itu. Kejadian ini bukan yang pertama terjadi. Tahun 2012 juga pernah harga kedelai melambung tinggi dan memunculkan protes dari produsen tahu tempe.

Alasan kenapa harga kedelai naik??? sudah sangat klise jawabannya yaitu karena langkanya pasokan dipasar akibat dari produksi salam negeri yang tidak mampu memenuhi permintaan dan juga turunnnya produksi dunia. Perlu diketahui bahwa kebutuhan kedelai dalam negeri lebih banyak dipenuhi dari produk yang didatangkan dari luar negeri/impor alias Indonesia masih sangat tergantung dengan impor untuk memenuhi kebutuhan produsen tahu tempe, kecap, taco, snack dan pakan ternak. Tingkat ketergantungannya mencapai 55%-70%. Dampak negatif dari ketergantungan impor adalah 1) terkurasnya devisa negara, pada tahun 2009 saja mencapai 5,95 trillun rupiah; 2) tidak ada jaminan keberlangsungan stok dunia akan aman dalam jangka panjang; 3) menguat atau melemahnya nilai rupiah dibandingkan dollar sangat berpengaruh pada harga dalam negeri yang akan merugikan petani atau produsen yang berbahan baku kedelai. ketika nilai rupiah melemah seperti saat ini yang hampir mencapai 11.000, maka produsen yang dirugikan karen aharus membayar kedelai dengan harga lebih mahal. begitu sebaliknya.

pertanyaan selanjutnya, kenapa indonesia tidak bisa memenuhi kebutuhan dengan produksi kedelai dalam negeri sendiri? kan lahannya luas?  Kalau di tilik kebelakang, Indonesia pernah mengalami swasembada kedelai pada tahun 1992 dengan produksi 1,8 juta ton. Akan tetapi setelah tahun tersebut luasan lahan kedelai semakin turun begitu juga karena petani lebih tertarik untuk menanam komoditas lain yang memberikan keuntungan lebih besar seperti jagung, padi, kacang hijau. apalagi dibandingkan dengan jagung dan kacang hijau, pemeliharaan kedelai juga harus lebih intensif. Kendala lain yang dihadapi dalam upaya swasembada kedelai adalah 1) mudahnya tataniaga impor. Kedelai bukan merupakan komoditas yang dikelola lagi oleh Bulog tetapi sudah diserahkan pihak swasta untuk mengimpornya. Hal ini jelas sangat rentan dengan permaian untuk melegalkan impor dengan berbagai alasan sehingga Indonesia selalu dibanjiri kedelai impor yang kadang mengalahkan kedelai dalam negeri yang kurang mampu bersaing dalam hal harga dan kualitas; 2) produktivitas rendah. rata-rata produktivitas kedelai yang dihasilkan petani lokal kurang lebih 1,3 ton/Ha padahal potensi benih unggul bisa mencapai lebih dari 2 ton/Ha. Sebagian besar petani belum mampu untuk menggunakan teknologi anjuran seperti benih unggul dan pemupukan berimbang. dengan dicabutnya fasilitas subsidi pupuk, kredit, irigasi dan lain-lian pada tahun 1998 berakibat pada bebean biaya yang tinggi sehingga petani lebih banyak mengurangi penggunaan input untuk mengurangi biaya; dan 3) berkurangnya lahan pertanian karena persaingan dengan sektor lain.

Apa solusi untuk mengatasi masalah perkedelaian???

ketergantungan impor harus dihilangkan dengan cara swasembada, melalui beberapa alternatif kebijakan:

1) kebijakan yang sifatnya proteksi dan isentif. Bentuk kebijakan proteksi ditujukan untuk melindungi produk lokal dari persaingan bebas produk impor. Pada kedelai impor berharga lebih murah dibanding kedelai lokal (saat nilai tukar normal), impor jelas akan merusak harga kedelai petani dan pada ahirnya petani tidak akan berminat lagi menanam kedelai. bentuk kebijakan proteksi misalnya menaikkan pajak tarif impor. Kebijakan insentif untuk meningkatkan pendapatan petani, bisa melalui pemberlakuan kembali subsidi input, bunga kredit rendah, atau bahkan dengan insentif tunai. Harga kedelai impor lebih murah karena petani di luar negeri menerima insentif dari pemerintah sehingga biaya produksi rendah.

2) intensifikasi kedelai, ini untuk meningkatkan produkstivitas kedelai lokal

3) mengembalikan peran Bulog sebagai lembaga yang mengelola stabilisasi harga kedelai

akan lebih baik kalau alternatif kebijakan tersebut dilaksanakan secara bersama dan saling berkoordinasi.

semoga tahu-tempe kembali muncul keberadaannya di pasar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s