SERBA SERBI USAHATANI BAWANG MERAH (2)

Tulisan sebelumnya telah sedikit  dibahas usahatani  bawang merah alias brambang di Bantul dan Nganjuk. Daerah yan mempunyai kontribusi terbesar adalah bukan kedua daerah tersebut tetapi ada satu daerah di Jawa tengah yang terletak di daerah pantura yang menjadi penghasil bawang merah terbesar di Indonesia, yaitu brebes. Petani di brebes menanam bawang merahnya 2-3 kali dalam setahun tetapi setelah dua tahun menanam bawang merah sebagian besar lahan akan di gantii tanaman tebu. Ini berarti ada pemotongan siklus dimana berbeda dengan di Sukomoro Nganjuk yang sepanjang tahun tanpa henti menanam bawang merah.

Salah satu hama utama yang mempunyai dampak sangat parah di manapun daerah penghasil bawang merah adalah virus. Virus ini bisa muncul dari umbi/benih yang dijadikan bibit yang itu juga diturunkan dari tanaman sebelumnya. Menurut peneliti, ada salah satu alternative untuk memotong rantai virus ini yaitu dengan menggunakan bibit dari biji bawang merah. Biji bawang hampir dipastikan tidak bisa diserang virus. Lagi pula, dengan menggunakan biji akan menghemat biaya bibit yang besar. Kelebihan lain menggunakan bibit selain bebas virus, dan biaya murah adalah potensi produktivitas bisa  dua kali (2x) lipat dibanding dengan menggunakan bibit umbi.Luasan 1 meter persegi  tanaman bawang merah (jika berbunga semua), bijinya dapat digunakan untuk bibit 1 hektar lahan, bandingkan dengan jika bibit memakai umbi yang dalam satu hektar membutuhkan kurang lebih 1,5 ton dan jika itu di nominalkan itu mencapai puluhan juta. Bibit merupakan salah satu komponen terbesar dalam struktur biaya usahatani bawang merah. Insaya allah lain waktu saya sampaikan analisis usahataninya.

Meskipun mempunyai kelebihan yang besar, dari sisi biaya, produktivitas, dan tahan virus, bibit dengan biji mempunyai kelemahan yang menyebabkan kurang berkembang atau kurang disukai petani, diantaranya: 1) waktu usahatani lebih panjang 1 bulan, sehingga bisa merusak pola tanam yang biasa dilakukan petani dan memperpanjang masa tunggu panennya; 2)sistem tanam lebih rumit karena  harus melalui penyemaian. Biji disemai dulu untuk kemudian ditanam di lahan sesuai jarak tanam, berbeda dengan umbi yang langsung ditanam di lahan; 3) biji bawang tidak mudah diperoleh. Bunga bawang yang nantinya akan tumbuh menjadi biji hanya akan muncul pada saat cuaca sangat dingin, sehingga kalau mau mendapatkan biji, harus ada perlakkuan senidiri dengan membuat suhu dingin pada tanaman bawang. Kalau Cuma mengandalkan cuaca normal di sekitar lahan usahatani maka akan sulit didapat biji tersebut.

Apapun kelemahannya, menurut penulis, ini membawa harapan untuk peningkatan produksi dan keuntungan petani bawang merah. Tinggal bagaimana sinergi peneliti dan pemerintah bisa merubah perilaku petani, meyakinkan petani akan keuntungan yang diperoleh dimana pengorbanan waktu panjang, HOK penyemaian akan terbayarkan dengan pengurangan biaya bibit yang sangat besar (makanya perlu penelitian untuk menghitungnya), dan produksi yang tinggi. Alternative solusi lainnya adalah petani tiadk membeli biji yang harus disemai tetapi bisa membeli bibit (biji yang sudah disemai) siap tanam, artinya ada pihak penyedia bibit. Karena biji susah diperoleh maka ada juga pihak yang menanm bawang merah dengan perlakuan khusus untuk hanya menghasilkan bijinya.

Semoga produksi bawang merah terus meningkat dan keuntungan petani juga terus meningkat. amiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s