Ironi Produk Buah Lokal

judul salah satu berita di koran tempo hari ini (30/09/2013) kurang lebih tertulis ” 5 juta ton produk Buah lolak tidak terserap pasar”. sungguh sangat memprihatinkan karena pada sisi lain produk buah impor di pasaran sangat banyak, baik untuk kebutuhan konsumsi langsung maupun untuk kebutuhan industri. Menurut sata statistik, nilai impor buah semakin meningkat tiap tahunnnya. pada tahun 2011 kurang lebih Rp 307 trilliun nilai impor buah dan menjadi 1,5 juta dollar US.

Menurut Assosisasi Industri Pengolahan Makanan, sebenarnya kebutuhan industri akan buah lebih besar daripada produk lokal artinya produk lokal belum mampu memenuhi kebutuhan industri dari sisi jumlah. namun demikian, selain kuantitasnya kurang, produk buah lokal belum mampu memenuhi kriteria/ spesifikasi yang dibutuhkan industri (bagaimana dengan kandungan nutrisinya??? penulis meragukan). misalnya, menurut Assosiasi tersebut, jeruk keprok jember tidak bisa terserap industri jus karena jeruk sulit untuk diperas.

Kejadian di atas sebenarnya juga terjadi pada produk yang lain, seperti jagung kedelai, dll. khususnya untuk pasar industri. Industri pakan ternak yang berbahan baku jagung dan kedelai lebih suka impor dengan alasan yang sama seperti industri pengolahan makanan.

Kalau industri menggunakan produk impor karena alasan kriteria atau spesifikasi produk sebagai bahan baku industri, maka berbeda dengan konsumen langsung yang memilih produk impor kemungkinan karena tampilan buah dan harga sedikit lebih murah. mereka (konsumen) tidak mempertimbangkan kandungan nutrisi buah impor yang jelas banyak berkurang karena sudah melalui banyak perlakuan pengawetan sehingga tidak segar lagi, belum lagi dari segi keamanan. buah impor ditengarai mengandung lapisan dan formalin sebagai bahan pengawet.

Fakta diatas menunjukkan bahwa pertanian indonesia masih belum berhasil dalam upaya peningkatan kuntitas dan kualitas produk pertaniannya. msalah yang hasrus di selesaikan adalah 1) peningkatan kuantitas dan kualitas produksi dengan sasaran pelaku on farm; 2) edukasi konsumen tentang kesehatan; 3) kebijakan pemerintah untuk proteksi produk lokal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s